Saturday, March 28, 2009

It's Time of Your Life

Some friends of mine said, that
we need to break up
some times


Some friends of mine said, that

we need to keep working on and on
always

Some friends of mine said, that
success will just come as a luck
normally

Some friends of mine said, that
good fortune greets after lots of efforts
mostly

Some friends of mine said, that
all proverbs are just proverbs
all of them

They said also, that
It's time of your life
do whatever takes your faith straight
forward

Tuesday, March 24, 2009

Arti Sebuah Kesabaran


Sabar selalu berbuah positif. Meski mudah untuk diucapkan, menerapkan sifat sabar bukanlah hal mudah. Butuh latihan terus menerus tanpa kenal henti. Arti sebuah kesabaran hanya akan muncul setelah berbagai masalah yan kita hadapi dengan sepenuh hati dan keyakinan akan jalan keluar yang menunggu di depan.

Terdengar begitu profetik memang untuk berbicara perihal kesabaran. Ketika dihadakan dengan berbagai masalah bertubi-tubi, kita cenderung untuk gundah dan merasa terhimpit. Seolah-olah semua hal yan kita jalani tidak berarti apapun. Pada dasarnya tidak perlu sejauh ini mensikapi masalah yang ada. Masalah selalu dilatar belakangi oleh beberap faktor, entah satu maupun lebih. Melihat secara lebih mendalam dari tumpukan masalah yang dihadapi merupakan bagian awal dari upaya kita untuk melatih kesabaran.

Apa yang kemudian dapat dilakukan oleh sifat sabar dalam kasus seperti ini? Sabar mengajarkan kepada kita untuk lebih hati-hati, bijak, sportif, dan sekaligus bertanggung jawab. Menerima kenyataan akan keterbatasan yang ada merupakan prinsip dasar. Dengan bersabar, kita berarti optimis bahwa masalah akan selesai pada akhirnya. Meski jelas tidak menafikkan usaha (ikhtiar) untuk mencari solusi-solusi alternatif.

Memang tidak ada manusia yang sempurna. Namun dengan adanya sikap sabar yang dilatih secara kontinyu, berbagai masalah yang ada dan akan datang menghampiri. Jika menilik dari pengalaman pribadi masing-masing
, kita akan dapati bahwa berbagai pertengkaran, perselisihan, dan konforntasi diawali detik-detik dimana sikap sabar tidak lagi diindahkan. Emosi terekspresikan dan nalar akhirnya tertutup. Sabar adalah jalan satu-satunya untuk selalu dapat mencari jalan terbaik dalam hal apapun. Setidaknya arti dari sebuah kesabaran dapat terlihat langsung kala masalah sedang dirundung dan kemudian terselesaikan. Meski sebenarnya, begitu banyak kebaikan yang menanti didepan sebagai buah dari sifat sabar.

Tuesday, December 9, 2008

Pengorbanan

Idul Adha dikenal dengan Hari Raya Kurban, mengajarkan arti penting sebuah keyakinan. Bermula dari Nabi Ibrahim yang mendapat perintah dari Sang Pencipta untuk menyembelih putra tercinta, Nabi Ismail. Konon, lama sebelum itu, Ibrahim pernah berkata dalam hatinya,"Aku akan memberikan apapun yang Engkau pinta wahai Tuhanku, demi membuktikan rasa cinta yang aku miliki kepadaMu" (ed). Pada akhirnya, Allah menagih janji Ibrahim dengan perintah menyembelih sang putra tercinta satu-satunya. Hanya satu hal yang membuat Ibrahim berani melakukan pengorbanan ini yakni keyakinan tauhid yang ia miliki kepada Sang Pencipta.

Ketulusan Ibrahim untuk menyembelih sang putra atas perintah Allah, merupakan bentuk pengorbanan yang sangat mendalam. Pengorbanan demi suatu keyakinan kuat akan nilai baik, meskipun harus melepas kepemilikan yang paling ia cintai. Hikmah dari keikhlasan tersebut menjadikan ridho Sang Pencipta untuk mengganti Ismail dengan domba untuk disembelih sebagai hewan kurban.

Dari kisah ini, umat Islam berkewajiban untuk menyembelih hewan kurban setiap datangnya Idul Adha. Terkhusus bagi yang telah mampu secara materiil. Begitu pentingnya kurban ini, baik sebagai bentuk simbolik maupun materialnya, sang Rasulullah pernah bersabda,"Barang siapa yang telah mampu berkurban namun tidak melakukkannya, hendaklah ia tidak mendekati tempat-tempat ibadah".

Terdapat paling tidak 2 nilai yang inherent dengan penyerahan kurban dalam Islam atas nama Allah. Pertama, bentuk rasa yakin bahwa kepemilikan, material khususnya, tidaklah sebanding dihadapan keyakinan atas kekuasaan dan kemahabesaran sang Pencipta. Etika yang diajarkan untuk meyerahkan hewan kurban yang sebaik mungkin, merupakan simbol kesungguhan dalam berkurban. Yakni hewan yang hendak disembelih sebagai kurban tidak boleh berpenyakit, cacat, maupun sedang mengandung untuk hewan betina.

Kedua, nilai kepekaan sosial yang terbangung dari wajibnya membagi hasil penyembelihan hewan kurban bagi orang miskin, fakir, muallaf, dsb. Ditengah keadaan ekonomi yang dalam ancaman krisis global sekarang ini, nilai sosial tersebut begitu berarti. Meski bentuk yang materiil hanyalah sekantong daging mentah yang telah dipotong-potong, namun pesan empati dan tanggungjawab sosial yang tersirat begitu dalam maknanya. Karena ketika kurban disembelih, tanpa didistribusikan ke mereka yang berhak, akan tidak diakui sebagai kurban (udhhiyah).

Selain pesan spiritual yang begitu dalam akan arti keyakinan akan kebesaran Allah Sang Pencipta, Hari Raya Idul Adha mengajarkan arti penting hidup bersama dan bagaimana kita mewarnainya. Jika hari ini kita masih mendapati orang disekitar kita, masyarakat dari kota dan propinsi kita, sekelompok penduduk dari negara kita yang masih di bawah garus kemiskinan, hendak menjadi perhatian yang semakin serius untuk menolong dan membantu mereka sebisa mungkin. Langsung maupun tidak langusung adalah pilihan. Personal maupun dengan cara struktural, toh Allah sang Penguasa Alam Maha Tahu akan perbuatan tersebut.

Thursday, November 27, 2008

Stay Focused

Amidst the peppering news on global crisis stage II predicted, natural and reasonable response that appears is worry. Regardless the concerned issues have been well understood what and why these global crisis news readers just get to put in their mind that the terrible disaster will terrify human being living on earth. Spontaneous reaction over such not-yet verified understanding will stimulate the existing performance to fear the unknown possibilities. The immediate result from this is the emerging disorder of mind focus.

Frankly speaking, there is nothing to worry about nor fear. Global crisis is still a prediction revealed by the Nobel of Economic Laureate Paul Krugman. Though there have been a few indicators leading the media and global governments concerns there, it does not justify that whole sectors of life would respond the same over the case. The only valuable and recommended thing to do for those out of government officials and corporate sectors, is to stay focused on the our jobs given.

Two reasons for why to do this contributes to better out put toward the circumstance we have got. First, the disaster either made by human or naturally happened, will be always there. The point of concern is not on the disaster its self with the very limited people majoring best related field and realm. It's merely to be how to behave right toward the given situation.

Second, worry constitute a troubled and unsettled feeling with or without clear cut reasons can reduce much human's energy. To follow where it goes will definitely carry us to worsening reality forward. It would be better to stay focused on the given tasks at work or any in order to have better and stronger basis of cornerstone. We can think off much brighter what we need to do forward when and if necessary.

Wednesday, November 26, 2008

Mari Belajar

"Life is once. Let's make it as meaningful as we can"

Sebuah falsafah hidup yg begitu menarik untuk ditelaah dan diresapi. Ungkapan tersebut seolah-olah menekankan bahwa hidup berlangsung hanya sekali dan tidak akan pernah terulang dan diulang. Kesempatan sekali meniscayakan adanya sebuah harapan baik sekaligus kehati-hatian dan tanggunjawab. Meski kapasitas dan proses yang akan berlangsung memiliki keunikan dan tahapan khas masing-masing sehingga menafikkan absolusitas klaim bentuk oleh siapapun.

Membuat hidup berarti dan bermakna memiliki berbagai kemungkinan interpretasi dan sekaligus orientasi. Tergantung pada cara pandang hidup masing-masing individu dalam melihat apa, kenapa, dan bagaimana akan hidup yang sedang dijalani. Jelasnya bukan berbicara pada cara pandang mana yang lebih layak untuk dijadikan acuan dalam mewarnai kehidupan yg ada. Namun lebih kepada sebuah keyakinan pribadi yang bersifat amat individual akan sebuah keberartian dan kebermaknaan.

'Berarti' dapat merujuk kepada sebuah cita-cita yang telah lama tertanam, kepada harapan orang lain yang memiliki kedekatan hubungan batin maupun lahir, bahkan boleh ja di merujuk pada sebuah pengalaman pahit masa lalu yang takterlupakan. Unsur nilai dari "berarti'' baik hitam maupun putih, atau klasifikasi lain, sekali lagi menjadi konsumsi pribadi individu yang merupakan entitas makhluk rasional yang memiliki otoritas memilih (free will). Singkat kata, ''keberartian' dari sebuah kehidupan lebih ditekankan pada keselarasan antara batin (keyakinan), pikiran, dan komitmen dalam berbuat dan bertindak.

Merupakan sebuah kenaifan ketika otoritas ''keberartian'' tersebut tidak layak diklaim oleh siapapun dan bagaimanapun, muncul sebuah sikap acuh (ignorance) dan malas (laziness) dalam menjalani hidup dari waktu ke waktu. Mengapa? Karena sikap acuh merupakan refleksi dari rasa tidak membutuhkan, tidak terkait, dan tidak memiliki hubungan dengan hal atau orang lain. Berbeda halnya dengan sikap self-sufficient, yang berarti merasa cukup dengan diri sendiri. Sikap ini positif karena didorong oleh sebuah motivasi tidak untuk merepotkan orang lain dan tidak untuk terlalu reaktif dan berlebihan dalam memperturutkan keinginan yang tiada akhir.

Sikap acuh lebih menonjolkan self-ego tanpa landasan kuat untuk dapat terbagi dan dibagi-bagi, oleh karenanya ia hanya akan mengundang bentuk-bentuk penerimaan negatif yang tidak jauh berbeda bentuk dan isinya.

Dalam ukuran cara berpikir rasional, yang terkadang mengedepankan logika berpikir Aristotelesian dengan ciri matematisnya, dapat mereduksi tidak sedikit arti bahkan nilai. Bahkah terkadang, sudut pandanga yang diambil secara 'rasional'' tanpa memperhatikan dan menelaah secara seksama dapat menjerumuskan. Sikap tidak perlu memberikan bantuan terhadap 'perbaikan drainase depan rumah'' misalnya, dengan alasan telah memiliki alokasi budget plan ataupun kegiatan sosial serupa di tempat berbeda, akan meredusir arti dari sikap positif dalam bertegangga dan bermasyarakat dalam suatu lingkup pandang sederhana, yakni hubungan sosial. Tidak untuk mengatakan bahwa harus memulu reaktif, akan tetapi lebih mengeksplorasi 'rasa sebagai bagian dari masyarakat (sense of being social being).

Tidak jauh berbahaya dari sikap acuh, malas (laziness) secara sederhana adalah ekspresi dari tidak adanya tanggung jawab untuk hidup. Sikap malas bahkan secara tegas dapat dikatakan sebagai sikap yang berlawanan dengan hukum alam dimana segala sesuatu selalu melalui dan memiliki proses dan tahapan-tahapan. Pendorong sikap malas seperti trauma, dis-orientasi, ketidaknyamanan, ketidaktertarikan, ketidakmampuan, ataupun alasan lain tidak pernah dapat ditolerir pada sebuah kondisi dimana apapun itu selalu tidak pernah memiliki kata lengkap dan sempurna, selama masih berhubungan dengan material. Apalagi yang besifat non-material. Sikap malas menafikkan adanya fakta kehidupan baik dalam lingkup ruang (space) maupun waktu (time) untuk selalu membutuhkan sikap tanggungjawa dan komitmen. Berjalan ke dapur untuk menyantap makanan lezat malam pun, kita juga harus masih mencuci tangan, memasukkan makanan tersebut sedikit demi sedikit, hingga kemudian muncullha kesan enak, lezat, dan kenyang. Keberlakuan untuk hal sederhana ini, meniscayakan berbagai macam sendi dan bentuk aktifitas dalam kehidupan anak Adam.


'Life is like chocolate. we don't know what's going to happen tomorrow morning' (Forest Gump)
Ketidak tahuan kita bagaimana waktu akan datang menyambut kita kedepan merupakan sebuah fakta empirik sekaligus bukti rasional bahwa banyak hal yang masih terselubung dan belum kita ketahui. Terlebih lagi ketika rasa dalam batin yang mengungkap akan betapa dalamnya alam ini tercipta dan diciptakan, serta betapa dangkal pengetahuan serta ilmu yang kita miliki. Dengan begitu tidak ada alasan yang tersisa untuk bersikap acuh dan malas-malasan untuk menjalani hidup dan membuatnya berarti dan semakin bermakna.


Untuk itu, mari kita belajar.

Thursday, November 20, 2008

Wake up

This life is once on earth

no sleeping too much along you ages

How long have you been sleeping up until now?

Hundreds of jobs are waiting for

you to carry out completely instead

of sleeping.

Wake up!

Illness versus Health

"Health is crown. None can see it but the illness sufferers". This proverb taught us how to value healthiness as a vital part of life. The absence of illness which means the general condition of body or mind work well as expected normally becomes one of the neglected honor to keep. Falling on our daily routine and jobs apparently excite us better than a short break to see how well the state of health we have got. Serious attention will get started when things turn to be worse. At the time a consciousness of the significance of health shows real.

Despite illness does not come regularly, we don’t need to wait for it to attack. To prevent is much better than to cure an occurring disease. Therefore, to look after our health could be just an object to pay attention every day. When a state of being healthy has become a habit, everything’s going to be just fine. No more worry about the coming illness but unlucky. Somehow we have done best for the sake of health which is the crown of human’s life.